POWER POINT KARYA TULIS ILMIAH

Juni 26, 2008

POWER POINT

BAHASA OSING

Juni 26, 2008

Bahasa Osing adalah nama dialek bahasa Jawa yang dipertuturkan di daerah Banyuwangi, Jawa Timur. Kata osing berasal dari kata tusing dalam bahasa Bali, bahasa daerah tetangganya. Artinya ialah tidak. Jumlah penduduk asli Banyuwangi yang acap disebut sebagai “Lare Using” ini diperkirakan mencapai 500 ribu jiwa dan secara otomatis menjadi pendukung tutur Bahasa Jawa Osing ini. Penutur Bahasa Jawa Osing ini tersebar terutama di wilayah tengah kabupaten Banyuwangi, terutama kecamatan-kecamatan sebagai berikut : Kabat Rogojampi Glagah Kalipuro Srono Songgon Cluring Giri sebagian kota Banyuwangi Gambiran Singojuruh sebagian Genteng Licin
Sedangkan wilayah lainnya adalah wilayah tutur campuran baik Bahasa Jawa ataupun Bahasa Madura. Selain di Banyuwangi, penutur bahasa ini juga dapat dijumpai di wilayah kabupaten Jember, terutama di Dusun Krajan Timur, Desa Glundengan, Kecamatan Wuluhan, Jember. Namun dialek Osing di wilayah Jember ini telah banyak terpengaruh bahasa Jawa dan Madura disamping dikarenakan keterisolasiannya dari daerah Osing di Banyuwangi di masa lalu dari pusat Majapahit, maupun Mataram sehingga bahasa Jawa Kuno yang ada berkembang sendiri dan terpengaruh daerah sekitar.
Bahasa Jawa Osing mempunyai keunikan dalam sistem pelafalannya, antara lain: Adanya diftong [ai] untuk vokal [i] : semua leksikon berakhiran “i” pada bahasa Jawa Osing khususnya Banyuwangi selalu terlafal “ai”. Seperti misalnya geni terbaca genai, bengi terbaca bengai. Adanya diftong [au] untuk vokal [u]: leksikon berakhiran u hampir selalu terbaca au. Seperti gedigu (begitu) terbaca gedigau, asu terbaca asau.. Lafal konsonan [k] untuk konsonan [q] di Bahasa Jawa, terutama pada leksikon berakhiran huruf “k” selalu dilafalkan dengan glottal “q”. Sedangkan di Bahasa Jawa Osing, justru tetap terbaca “k” yang artinya konsonan hambat velar. antara lain apik terbaca apiK, manuk terbaca manuK, dan seterusnya. Palatalisasi [y]. Dalam Bahasa Jawa Osing, kerap muncul pada leksikon yang mengandung [ba], [pa], [da], [wa]. Seperti bapak dilafalkan byapak, uwak dilafalkan uwyak, embah dilafalkan embyah, Banyuwangi dilafalkan byanyuwangai, dhawuk dibaca dyawuk.
Selain itu, ada ciri khas lainnya dari bahasa atawa dialek Osing ini yang aneh…untuk kata “tidak” mereka menggunakan kata sing dan itu banyak terpengaruh bahasa sekitarnya, seperti misalnya Bahasa Bali atau kawi, sebagai contoh siro sama dengan di Cirebon dan Indramayu yang berarti kamu dan juga kata maning dipakai di Banyuwangi, padahal pengguna kata ini di Cirebon, Tegal, Banyumas dan Pemalang berkisar ratusan kilometer. Saya berpikir Banyuwangi, Tengger, Cirebon, Banyumas, Banten, bahkan Tegal itu adalah sisa-sisa bahasa Jawa yang masih kuno dan banyak kata-kata kuno yang masih tersimpan disitu, sehingga mungkin pembakuan bahasa Jawa hanya sampai pada tingkat Kromo Kosakata berakar bahasa Inggris juga masuk dalam daftar kamus dialek Banyuwangi, karena pada masa silam banyak tuan tanah Inggris, khususnya di Glenmore dan Kalibaru yang akhirnya turut mempengaruhi kosakata setempat, sebagai contohnya : sulung (dari frasa so long) : duluan, nagud (dari frasa no good) : jelek. Keanekaragaman ini sebagai bukti bahwa Indonesui sebagai negara yang kaya akan budaya daerah termasuh bahasa daerah.

BAHASA OSING

Juni 26, 2008

SIMPOSIUM NASIONAL


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.